Berita

Breaking News:    Festival HKAN

MENGAWAL SANG BERUANG KEMBALI KE HABITATNYA

Kerinci, 3 Maret 2021. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi bersama dengan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) dan Fauna & Flora Internasional melakukan pelepasliaran terhadap 3 (tiga) ekor satwa Beruang Madu (Helarctos malayanus) di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Kabupaten Kerinci.
Sebelumnya beruang madu tersebut berasal dari Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur (BKSDA DKI Jakarta). Selama ± 4 (empat) bulan satwa ini di rehabilitasi di Tempat Penyelamatan Satwa (TPS) Balai KSDA Jambi. Selama dalam masa rehabilitasi, satwa-satwa ini mendapat perlakuan untuk mengembalikan insting hidup di habitat alaminya. Disamping itu juga dilakukan pengecekan kesehatan dan pengaturan diet yang ketat dari dokter hewan. Pelepasliaran satwa merupakan salah satu bagian dari aktifitas upaya penyelamatan satwa. Artinya kegiatannya belum selesai ketika satwa dikembalikan ke habitat alaminya, melainkan masih dibutuhkan upaya memonitor satwa yang dilepaskan bisa hidup dengan baik dan menjaga kelestarian habitatnya. Untuk itu dibutuhkan peran serta Pemerintah Daerah dan Masyarakat untuk memastikan satwa liar yang dimiliki bangsa ini menjadi kekayaan dan kebanggaan bangsa.
TNKS merupakan hutan hujan tropis yang masih baik sehingga merupakan habitat yang ideal bagi berbagai satwa liar seperti beruang madu. Lokasi pelepasliaran dipilih di lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk berdasarkan survei yang dilakukan bersama-sama oleh Tim BBTNKS dan BKSDA Jambi. Menurut Nurhamidi (Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I BBTNKS) lokasi tersebut memiliki kondisi habitat yang cukup baik yang bisa mendukung kehidupan satwa liar beruang madu karena memiliki potensi pakan beruang madu yang melimpah berupa buah-buahan hutan yang biasa dimakan oleh beruang, serangga-serangga kecil yang hidup di tanah dan bongkahan kayu lapuk dan cukup banyak potensi lebah madu. Tim FFI yang hadir dari unit Monitoring Harimau Sumatera (MHS) dan Patroli Harimau Sumatera (PHS) beserta Program Manajer Lanskap (Abdul Hadison) sangat mengapresiasi release 3 ekor berung madu ini, Kami menilai sangat tepat dalam menentukan lokasi pelepasliaran secara prosedur dan daya dukungnya bagi beruang madu meskipun masih ditemukan kendala dalam teknis proses pelepasliaran, namun demikian dengan semangat kolaborasi berbagai pihak yang terlibat proses pelepasliaran berjalan dengan lancar dan baik ujar pria yang sering dipanggil Bang Didik ini.
Beruang Madu merupakan jenis paling kecil dari kedelapan jenis beruang yang ada di dunia. Selain itu, hewan ini juga memberikan kontribusi yang cukup bermanfaat bagi alam. hewan ini mampu berjalan 8 km setiap hari untuk mencari makan, mereka suka membongkar dan menggali tanah. Kebiasaannya ini bermanfaat untuk proses penguraian, daur ulang, serta penyebar biji-bijian pada hutan hujan tropis. Namun kondisi saat ini populasinya semakin menurun dan menjadi jenis yang rentan akibat alih fungsi kawasan dan perubahan tutupan lahan. Badan konservasi dunia The International Union for Conservation of Nature (IUCN), memasukan Beruang Madu dalam kategori status Genting (Endangered) dalam kategori Vulnerable (rentan). Sedangkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora) sekarang memasukan satwa ini ke dalam apendix I.
Rahmad Saleh, S.Hut.,M.Si selaku kepala Balai KSDA Jambi menyampaikan, bahwa “Ini merupakan bentuk komitmen Balai KSDA Jambi dalam mengembalikan satwa ke alam bebas dimana merupakan tanggung jawab kita semua dan tugas mulia karena membantu terciptanya keseimbangan ekosistem sehingga mewujudkan kondisi lingkungan hidup yang sehat dan terjaga kelestariannya. Selanjutnya Kepala Balai KSDA Jambi juga mengajak semua elemen masyarakat untuk menjaga keberadaan flora dan fauna sebagai amanah dari Allah Subhanahu wa Taala.